Aliran Sesat Menarik Karena Mampu Tawarkan Surga Instan
Aliran sesat yang kerap muncul di sejumlah daerah sangat erat kaitannya dengan beragam faktor sosiologis yang terdapat dalam masyarakat di tanah air dan mampu menawarkan ” surga yang instan”, kata Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) Mahendradatta. “Munculnya aliran sesat sangat berhubungan dengan berbagai faktor sosiologis yang mempengaruhi masyarakat kita seperti tingginya angka kemiskinan dan tingkat stres sehingga banyak orang yang kerap mencari jalan pintas untuk mencapai sesuatu,” katanya di Jakarta, Rabu.
Ia menuturkan, sejumlah aliran sesat seperti Al Qiyadah Al Islamiyah itu bisa menarik banyak orang karena menawarkan “surga ” atau kenikmatan yang akan diraih pengikutnya secara cepat atau “instan”.
Selain itu, Mahendradatta juga melihat bahwa faktor lainnya adalah karena tidak sedikit warga yang mudah tertipu dan berpikir secara irasional terhadap sesuatu hal yang bila dipikirkan sebenarnya bertentangan dengan akal sehat.
“Misalnya masih ada yang mau memberikan uang dengan janji akan diberikan bunga hingga sebesar puluhan persen per bulan, padahal itu kan bisa dibilang tidak mungkin. Begitu juga adanya dengan fenomena kemunculan aliran sesat,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahid Institute, Ahmad Suaedy mengemukakan munculnya beragam aliran ini sepatutnya juga dijadikan sebagai bahan mawas diri para agamawan yang berada dalam “mainstream” atau garis utama agamanya.
Sebelumnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengemukakan aliran sesat dan menyesatkan yang mengaitkan diri dengan ajaran Islam bermunculan di Indonesia antara lain karena dakwah belum dilakukan secara meluas dan menyentuh segenap kaum Muslim di Tanah Air.
“Boleh jadi adanya paham-paham baru yang bertentangan dengan akidah Islamiyah ini disebabkan karena dakwah yang belum meluas dan mendalam ke seluruh umat Islam,” kata Din.
Menurut dia, hal tersebut dapat terindikasi dari masih minimnya jumlah orang Islam yang masuk ke dalam salah satu ormas Islam di Tanah Air.
Din mengungkapkan, dari sekitar 190 juta umat Muslim di Indonesia, maka baru sekitar 100 juta orang yang bergabung dengan beragam ormas Islam.
“Untuk itu, umat Islam harus bermuhasabah (introspeksi diri-red) karena mungkin dakwah yang kita lakukan masih berputar-putar di lingkungan tertentu saja,” katanya.


