Australia Sebarkan Buku Anak Guna Antisipasi Flu Burung
Australia yang hingga kini masih bebas dari kasus Flu Burung (Avian Influenza, H5N1) tidak hanya mengantisipasi ancaman virus berbahaya itu dengan menyiapkan cadangan obat tamiflu dan relenza, namun juga dengan kampanye buku anak-anak untuk meningkatkan kesadaran masyarakatnya.Kantor Pelayanan Inspeksi Karantina Australia (AQIS) misalnya menyiapkan buku bergambar dengan judul “My Sick Pelican” (Burung Undan Saya yang Sakit) untuk disebarkan ke sekolah-sekolah warga pribumi Australia guna memudahkan anak-anak mengenal unggas yang sakit.
Manajer Pengawasan Risiko AQIS, Andrew Moss, seperti dikutip ABC, Rabu, mengatakan, warga masyarakat, termasuk anak-anak, berada di barisan terdepan dalam upaya pencegahan penyebaran virus H5N1 di Australia.
Dukungan masyarakat itu, katanya, sangat penting bagi AQIS karena para petugas karantina akan dapat bekerja secara efektif. Penyebaran buku “My Sick Pelican” yang ditulis dua orang wanita Torres Strait itu merupakan salah satu cara AQIS meningkatkan kesadaran masyarakat, termasuk anak-anak, akan bahaya H5N1 itu, katanya.
Hingga kini, Australia masih bebas dari kasus flu burung.
Penerbitan dan penyebaran buku anak-anak seperti “My Sick Pelican” itu termasuk di antara langkah-langkah antisipatif yang telah diambil Australia dalam menghadapi kemungkinan ancaman virus flu burung yang sudah membunuh sedikitnya 87 orang di Indonesia dan 16 orang di China itu.
Selain kehilangan puluhan warga negaranya, industri peternakan unggas Indonesia pun mengalami kerugian sedikitnya Rp13 triliun sejak AI mewabah tahun 2003.
Seperti diberitakan ANTARA sebelumnya, kendati masih “relatif aman”, Pemerintah Federal Australia telah mengambil langkah untuk menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk menyediakan 8,75 juta obat antiviral tamiflu dan relenza sebagai cadangan yang siap pakai.
Dengan cadangan sebanyak itu, Australia tercatat sebagai salah satu negara dengan cadangan tamiflu dan relenza terbesar di dunia.
Laporan Departemen Kesehatan dan Penuaan Australia tentang rencana manajemen pandemi influenza 2006 menyebutkan, cadangan sebanyak 8,75 juta antiviral tamiflu dan relenza hingga awal 2007 itu siap digunakan dalam waktu 24 jam jika diperlukan.
Selain itu, Pemerintah Australia juga sudah menyiapkan dua juta masker “P2″, sebanyak 40 juta masker bedah serta berbagai sarung tangan dan peralatan medis lain yang diperlukan.
Sejak 2002, kesiapan Australia dalam mengantisipasi terjadinya pandemi penyakit menular maupun serangan terorisme biologi (bio-terrorism) terus dilakukan, termasuk menyediakan alat pemeriksa yang disebut thermal imaging scanners di bandar udara-bandar udara.
Perangkat thermal imaging scanners itu bermanfaat untuk mengidentifikasi orang-orang yang mungkin terjangkit flu.
Menteri Kesehatan dan Penuaan Australia Tony Abbott mengatakan, ancaman pandemi flu mematikan itu merupakan sesuatu yang “nyata”.
“Memang sulit untuk memperkirakan kapan pandemi itu terjadi, namun Australia tentu dapat bersiap diri. Pemerintah Persemakmuran sudah menyiapkan berbagai langkah yang diperlukan guna memastikan Australia benar-benar terlengkapi untuk merespon (ancaman ini),” katanya dalam satu kesempatan.
Sejak flu burung mewabah akhir 2003, pemerintah telah mengambil langkah dengan menyiapkan dana sebanyak 555 juta dolar Australia untuk memastikan kemampuan Australia dalam menangani pandemi.
“Dana itu termasuk 141 juta dolar untuk membantu para tetangga (negara tetangga) kita agar mereka dapat lebih baik menanggulangi ancaman flu burung ini,” katanya.
Dalam rencana aksi itu, dua hal yang menjadi fokus Australia adalah “kontainmen” wabah dan pemeliharaan berbagai pelayanan yang penting.
“Kontainmen berarti, di tahap awal pandemi, berbagai upaya intensif sudah harus dilakukan untuk menanggulangi pandemi sehingga tercukupi waktu untuk membuat vaksin influenza.”
“Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa upaya penanggulangan awal dan intens membantu pembuatan vaksin pada waktunya. Kontrak-kontrak dengan pabrik pembuat obat sudah juga dilakukan,” kata Abbott.
Strategi kontainmen tersebut juga meliputi pengurangan jumlah orang yang masuk ke Australia dan berbagai langkah pengawasan infeksi, serta karantina singkat bagi mereka yang terkena virus flu, katanya.
Bagi Australia, sejarah merupakan guru terbaik. Betapa tidak, negara tetangga Indonesia ini pernah merasakan pahitnya pandemi flu Spanyol tahun 1919 karena sekitar 11.500 warganya, kebanyakan remaja, meninggal.
Dunia pun pernah mengalami pandemi flu pada 1918, 1957, dan 1968. Pada pandemi flu Spanyol yang terjadi dalam tiga gelombang, yakni 1918, 1919 dan 1957-1958, antara 20 juta hingga 40 juta orang meninggal di seluruh dunia.
Dalam pandemi flu Asia tahun 1957, dua juta orang dilaporkan tewas. Bayi dan orang lanjut usia merupakan kelompok penderita yang sangat rentan terhadap virus flu ini, sedangkan pada pandemi flu Hongkong tahun 1968-1970, satu juta orang di seluruh dunia meninggal dunia. (*/cax)
